Jumat, 09 Juli 2021

KRITIK KUMPULAN CERPEN KARYA M. SHOIM ANWAR

 


Kritik Kumpulan Cerpen

Pada saat ini esai yang dibuat berisikan kumpulan cerpen karya M. Shoim Anwar yang terdiri dari lima cerpen. Kumpulan cerpen tersebut berjudul Sorot Mata Syaila, Tahi Lalat, Sepatu Jinjit Aryanti, Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue, dan Jangan ke Istana Anakku. Seluruh cerpen tersenut ditulis oleh M. Shoim Anwar pada tahun yang berbeda, berikut tahun penulisan cerpen:

-          Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue ditulis pada tahun 2015

-          Jangan Ke Istana Anakku ditulis pada tahun 2015

-          Tahi lalat ditulis pada tahun 2017

-          Sepatu Jinjit Aryanti ditulis pada tahun 2017

-          Sorot Mata Syaila ditulis pada tahun 2018

 


Kumpulan cerpen tersebut ditulis oleh M. Shoim Anwar di kota Surabaya. Namun,penulisannya pada waktu yang berbeda. Sehingga tahun penulisannya juga berbeda dari setiap cerpen.

 

Kumpulan cerpen yang berisikan lima cerpen tersebut dapat dirincikan sebagai berikut:

-          Kelima cerpen sama-sama menggunakan alur ampuran

Penulis menggambarkan kisah yang diawali dengan konflik kemudian konflik tersebut semakin meningkat. Setelah itu berlajut pada tahap pengenalan dan diakhiri denganpenyelesaian

Namun, pada cerpen yang berjudul Sepatu Jinjit Aryanti mempunyai jalan cerita yang mengambang paa saat penyelesaian seperti masih terdapat jalan cerita berlanjut.

-          Sudut pandang yang digunakan penulis merupakan sudut pandang orang pertama pada lima judul cerpen tersebut. Namun pada cerpen yang berjudul Tahi Lalat, tokoh aku tidak ikut berperan dalam erpen ia hanya menceritakan kejadian-kejadian yang dibuat alur cerita oleh penulis.  Sehingga tokoh aku bukantermasuk peran utamadalam cerita. Dalam cerpen yang lainnya Sorot Mata Syaila, Sepatu Jinjit Aryanti, Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue, dan Jangan ke Istana, Anakku memiliki tokoh aku yang sangat berperan penting dalam jalan cerita.

-          Tokoh dalam lima cerpen

Pada cerpen Tahi Lalat, tokoh utama pada cerpen yaitu Pak Lurah, tokoh aku (Ayah Laelah), Pak Bayan, Laela, Bakrul, dan istri dari tokoh aku.

Pada cerpen yang berjudul Sorot Mata Syaila, terdapat dua tokoh yaitu tokoh aku dan Syaila.

Pada cerpen Sepatu Jinjit Aryanti terdapat dua tokoh yaitu tokoh aku dan Aryanti.

Pada cerpen Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue terdiri dari tokoh Saya (Aku), Bambi, Miske, dan Devira.

Pada cerpen Jangan Ke Istana, Anakku terdiri dari tokoh Aku (Ayah Dewi), Dewi, dan Trihayu (Istri dari tokoh aku).

-          Topik pada lima cerpen

Topik yang terdapat pada lima cerpen tersebut membahas mengenai politik. Namun, juga diselingi dengan kisah cinta. Pada cerpen Tahi Lalat terdapat kisah cinta segitiga yang terjadi antara Pak Lurah, istri muda Pak Lurah, dan bos proyekperumahan. Pada cerpen yang berjudul Sorot Mata Syaila terjadi kisah cinta antara tokoh aku dan syaila namun, berakhir dengan tidak jelas karena syaila tiba-tiba menghilang dan tokoh aku mengingat kedua istri dan empat anaknya. Kemudian pada cerpen Sepatu Jinjit Aryanti menceritakan kisah cinta antara tokoh aku dan Aryanti yang bersembunyi dari media pencari berita karene Aryanti merupakan saksi pada suatu kasus besar. Lalu, pada cerpen Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue terdapat kisah cinta antara Bambi dan Miske yang keduanya bekerja sama mempermainkan pengadilan. Selanjutnya pada cerpen Jangan Ke Istana Anakku terdapat kisah cinta sebuah keluarga kecil yaitu tokoh aku, Dewi, dan Trihayu yang terpisahkan oleh kebijakan istana.

 

Permasalahan politik disampaikan penulis pada kelima cerpen tersebut sangat rumit. Dari permasalahan kebijakan hingga persekongkolan demi mendapatkan untung bagi diri mereka sendiri. Nampaknya, penulis menyampaikan kritikan bagi pemerintahan yang disampaikan dalam bentuk karya sastra cerpen ini pada masa itu. Hal ini dibuktikan pada isi kelima cerpen tersebut.  

1.      Cerpen Sorot Mata Syaila yang menceritakan kaburnya tokoh aku dari hukuman yang menjeratnya di tanah air dengan beralasan pergi beribadah ke Arab.

2.      Cerpen Tahi Lalat yang menceritakan Pak Lurah yang ingin menjabat kali kedua dan warga sudah tidak mempercayainya karena pada masa jabatannya yang pertama Pak Lurah tidak menepati janjinya dan bertindak semaunya.

3.      Cerpen Sepatu Jinjit Aryanti menceritakan tokoh aku yang ditugaskan oleh atasannya untuk menyembunyikan Aryanti karena Aryanti adalah saksi kunci dari sebuah tindak kejahatan yang menyangkut orang penting.

4.      Cerpen Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue terlihat unsur politik ketika tokoh aku memberikan uang sogokan kepada Bambi, seorang pemimpin persidangan atau hakim tertinggi, demi menang dalam kasus yang sedang menjeratnya. Dan ternyata, Bambi juga bersekongkol dengan Miske untuk mempermainkan pengadilan.

5.      Cerpen Jangan ke Istana, Anakku, terjadi unsur politik ketika pihak istana tidak memberikan keadilan dan bertindak semena-mena terhadap warganya yaitu tokoh aku dan keluarganya. Mereka ditangkap untuk dipekerjakan di istana. Tokoh aku menjadi penjaga istana, istrinya menjadi seorang penari, dan anaknya juga ditangkap oleh baginda istana.

 

Dengan demikian, dapat diambil pelajaran oleh pembaca setelah membaca kelima cerpen karya M. Shoim Anwar tersebut. Pelajaran atau pesan yang paling nampak yaitu pesan yang berhubungan dengan permasalahan politik di negara ini yang ditujukan kepada pemerintah maupun orang-orang yang bertindak kejahatan. Hal ini, bertujuan agar tindak hukum di negara ini semakin maju, tidak tebang pilih, dan berjalan seadil-adilnya. Inti dari pesan yang terkandung dalam kelima cerpen tersebut yaitu

 

1.       Sebaiknya sebagai seorang penguasa harus menjalankan semua kewajibannya dengan jujur, adil, dan selalu mementingkan kepentingan masyarakatnya.

2.      Sebagai warga negara yang baik, sudah seharusnya dan sepantasnya melakukan kewajiban dan mempertanggungjawabkan semua kesalahan atau tindak kejahatan yang telah dilakukan.

VIDEO KLIP LIP SYNC LAGU “MAMA PAPA LARANG” JUDIKA

 

                            Karya Mahasiswa dan Mahasiswa PBI Univ. PGRI Adi Buana Surabaya

 


Berdasarkan Lirik Lagu

Lirik lagu Mama Papa Larang ini mengisahkan kisah cinta yang tidak mendapatkan restu dari orang tua. Akan tetapi, mereka tetap memperjuangkan cinta mereka tanpa memikirkan bahwa hubungan mereka sebenarnya tidak direstui. Terdapat kalimat kiasan di dalam lirik lagu Mama Papa Larang ini yaitu pada bunyi di bawah ini.

 

Lagu tersebut juga menggambarkan bahwa betapa sangat besar cinta mereka, hingga mereka tidak ingin dipisahkan satu sama lain. Lirik yang digunakan dikemas begitu indah hingga para pendengar lagu tersebut mudah untuk menghafalnya. Cerita yang digunakan juga tidak asing di dengar dalam kehidupan. Kemudian, pesan yang sebenarnya disampaikan dari larik lagu Mama Papa Larang adalah perjuangkan cintamu dengan sepenuh hati, hingga kamu mendapatkan cintamu dengan cara dan dengan jalan yang direstui oleh Tuhan dan kedua orang tuamu.

 

Berdasarkan Video Klip

Isi video klip lip sync lagu Mama Papa Larang tersebut menceritakan tentang dua anak muda yang sedang jatuh cinta. Namun, cinta mereka tidak mendapatkan restu dari Ibu si perempuan. Ibu dari si perempuan tidak ingin anaknya pacaran. Ibu dari perempuan tersebut kali pertama mengetahui hubungan anaknya dari panggilan telepon di ponsel anaknya, serta foto walpaper anaknya bersama laki-laki tersebut. Tetapi, anaknya tetap kekeh, tidak mendengarkan nasihat dari Ibunya. Hingga pada suatu hari,  anak perempuan tersebut pergi dari rumah dengan meninggalkan tulisan di sebuah kertas. Anak perempuan tersebut pun menemui kekasihnya. Akan tetapi, kekasihnya tidak ingin anak perempuan tersebut melakukan hal itu. Hingga akhirnya, anak perempuan tersebut pun diantarkan kekasihnya kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Ibu anak perempuan tersebut menyambut dengan gembira dan sang laki-laki, kekasih anaknya tersenyum lega.

 

Konsep cerita yang ditampilkan dari video klip lip sync lagu Mama Papa Larang tersebut sangatlah menarik. Namun, ada bagian cerita pada video tersebut yang terkesan kurang atau ada cerita yang hilang yaitu pada saat sang laki-laki tiba-tiba mengantarkan kekasihnya pulang saat kabur dari rumah. Sehingga, membuat cerita pada bagian  tersebut seperti tidak nyambung, dan terkesan dipaksakan dengan mengakhiri jalan ceritanya seperti itu. Akan tetapi, dengan latar belakang tempat di taman dan di rumah yang dipilih, membuat video klip ini terkesan simpel, tetapi mudah diingat. Akting pemeran videonya juga sudah bagus. Di tambah lagi, pemeran laki-laki yang menyanyi juga bagus dalam menirukan lirik lagu dan ekspresinya juga sesuai dengan isi lirik lagu tersebut.

Rabu, 16 Juni 2021

Kritik Puisi Berjudul "Malu(Aku) Jadi Orang Indonesia" karya Taufik Ismail

 

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

 

I
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga

Ke Wisconsin aku dapat beasiswa

Sembilan belas lima enam itulah tahunnya

Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia 

K
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia

Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda

Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,

Whitefish Bay kampung asalnya

Kagum dia pada revolusi Indonesia 


Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya

Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama

Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya

Dadaku busung jadi anak Indonesia


Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy

Dan mendapat Ph.D. dari Rice University

Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army

Dulu dadaku tegap bila aku berdiri

Mengapa sering benar aku merunduk kini 


II
Langit langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia.

III
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor

satu,


Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang

curang susah dicari tandingan, 


Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu

dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara

hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,


Di negeriku komisi pembelian alat-alat besar, alat-alat ringan,

senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan

peuyeum dipotong birokrasi lebih separuh masuk

kantung jas safari,


Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,

anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,

menteri, jenderal, sekjen, dan dirjen sejati, agar

orangtua mereka bersenang hati,


Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum sangat
-

sangat-sangat-sangat-sangat jelas penipuan besar-

besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,


Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan

sandiwara yang opininya bersilang tak habis dan tak

putus dilarang-larang,


Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata supaya berdiri pusat

belanja modal raksasa,


Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,

ciumlah harum aroma mereka punya jenazah, sekarang

saja sementara mereka kalah, kelak perencana dan

pembunuh itu di dasar neraka oleh satpam akhirat akan

diinjak dan dilunyah lumat-lumat, 


Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia dan tidak

rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli, kabarnya

dengan sepotong SK suatu hari akan masuk Bursa Efek

Jakarta secara resmi,


Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan, lima

belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,


Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,

fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,


Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat jadi pertunjukan teror

penonton antarkota cuma karena sebagian sangat kecil

bangsa kita tak pernah bersedia menerima skor

pertandingan yang disetujui bersama,


Di negeriku rupanya sudah diputuskan kita tak terlibat Piala

Dunia demi keamanan antarbangsa, lagi pula Piala

Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil karena Cina,

India, Rusia dan kita tak turut serta, sehingga cukuplah

Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,


Di negeriku ada pembunuhan, penculikan dan penyiksaan rakyat

terang-terangan di Aceh, Tanjung Priuk, Lampung, Haur

Koneng, Nipah, Santa Cruz, Irian dan Banyuwangi, ada pula

pembantahan terang-terangan yang merupakan dusta

terang-terangan di bawah cahaya surya terang-terangan,

dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai

saksi terang-terangan, 


Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, tapi dalam

kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di

tumpukan jerami selepas menuai padi.

IV
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia.


1998

 

Berdasarkan isi puisi

Dalam puisi berjudul “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” karya Taufik Ismail berdasarkan tipografinya, puisi tersebut termasuk jenis puisi dengan tipografi teratur dengan jumlah bait dan baris tidak sama. Seperti yang kita lihat dalam puisi tersebut terdapat:

-          Bait satu terdapat empat baris.

-          Bait kedua terdapat lima baris.

-          Bait ketiga terdapat empat baris.

-          Bait keempat terdapat lima baris.

-          Bait ke-lima terdapat delapan baris.

-          Bait ke-enam terdapat Satu baris.

-          Bait ke-tujuh terdapat dua baris.

-          Bait ke-delapanterdapat tiga baris.

-          Bait ke-sembilan terdapat empat baris.

-          Bait ke- sepuluh terdapat empat baris.

-          Bait ke- sebelas terdapat tiga baris.

-          Bait ke- duabelas terdapat tiga baris.

-          Bait ke-tigabelas terdapat dua baris.

-          Bait ke-empatbelas terdapat lima baris.

-          Bait ke-limabelas terdapat lima baris.

-          Bait ke-enambelas terdapat empat baris.

-          Bait ke-tujuhbelas terdapat dua baris.

-          Bait ke-delapanbelas terdapat dua baris.

-          Bait ke-sembilanbelas terdapat empat baris.

-          Bait ke-dua puluh terdapat lima baris.

-          Bait ke-duapuluh satu terdapat tujuh baris.

-          Bait ke-dua puluh dua terdapat tiga baris.

-          Bait ke-duapuluh dua terdapat delapan baris.

Berdasarkan jumlah baris dalam setiap bait di atas,dapat disimpulkan bahwa bait yang terdapata pada puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” karya Taufik Ismail mempunyai 22 bait yang berbeda, namun pada puisi tersebut dibagi menjadi 4 bagian.

Pada puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” karya Taufik Ismail menggunakan kata-kata yang familie dan dapat dipahami oleh pembaca meskipun terdapat beberapa kata yang mengalami defamilier.

Pesan yang terkandung dalam puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia sebenarnya ditujukan kepada pemerintah. Puisi ini nampak bermaksud menyindir pemerintah agar bertindak adil dan jujur kepada rakyatnya. Sikap malu yang ditunjukkan Taufik Ismail adalah sebuah gambaran keadaan negara Indonesia pada waktu itu. Bahkan, gambaran keadaan tersebut masih nampak pada negara Indonesia saat ini.

Isi dan makna bagian pertama dari puisi dengan judul Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia karya Taufik Ismail di atas menceritakan tentang tokoh aku yang mendaparkan beasiswa di luar negeri. Disana, tokoh aku mempunyai sahabat bernama Thomas Stone. Sahabat tokoh aku tersebut sangat kagum dengan revolusi negara Indonesia. Lantas, tokoh aku berbangga diri terhadap negaranya.

Kemudian, pada bagian kedua tokoh aku tersentak dengan keadaan negara asalnya yaitu Indonesia. Keadaan negaranya tidak seperti yang dibayangkan. Dimana hukum tidak lagi tegak seperti dulu. Hingga pada akhirnya, tokoh aku tidak lagi berbangga diri terhadap negaranya. Tokoh aku justru malu akan hal itu karena pada kenyataannya kabar tentang negaranya tidak sesuai dengan kekaguman dari sahabatnya.

Pada bagian ketiga ini, tokoh aku menggambarkan keadaan negaranya yang begitu banyak kejahatan dan ketidakadilan didalamnya. Selain itu, tindak kejahatan juga meraja lela. Keadaan tersebut membuat rakyat kecil semakin terpuruk. Bahkan, Taufik Ismail juga menyebutkan beberapa bukti pada puisinya ini, salah satunya kejahatan pada Udin dan Marsinah.

 

KRITIK KUMPULAN CERPEN KARYA M. SHOIM ANWAR

  Kritik Kumpulan Cerpen Pada saat ini esai yang dibuat berisikan kumpulan cerpen karya M. Shoim Anwar yang terdiri dari lima cerpen. Kump...