Sulastri
dan Empat Lelaki
Cerpen
M. Shoim Anwar (Jawa Pos, 6 November 2011)
LAUT
menghampar dari pantai hingga batas tak terhingga. Ini adalah Laut Merah. Ombak
besar tak juga datang. Hanya semacam geligir bergerak di permukaan. Udara
terasa panas. Butir-butir pasir digoreng matahari. Tak ada peneduh yang
berarti. Pantai menyengat sepanjang garisnya. Dermaga yang menjorok ke tengah
tampak sepi. Katrol di ujung dermaga juga masih berdiri kokoh dalam kehampaan.
Tiang-tiang pengikat seperti tak pernah jenuh menanti kapal-kapal yang merapat
dari negeri jauh melalui Lautan Hindia atau Terusan Suez, atau dari negeri di
sebelah barat, mungkin Mesir, Sudan, Eritrea, atau angkutan domestik yang memilih
jalur laut. Di bibir Laut Merah, dari Yaman hingga perbatasan Yordania, cuaca
terasa membara.
Sementara
tak jauh di sebelah utara sana terlihat sekelompok bangunan dirimbuni pohon-pohon kurma. Burung-burung
datang dan pergi dari sana. Seekor gagak masih tampak menuju ke arahnya.
Sedangkan beberapa burung laut berpunggung perak beterbangan menyisir permukaan
air. Seorang polisi berseragam biru tua berdiri di depan posnya. Sesekali dia
meninggalkan tempatnya beberapa meter, mungkin membunuh kejenuhan, lantas
kembali ke tempat semula.
Perempuan
itu masih juga berdiri di atas tanggul. Pada ujungnya yang terkesan patah
karena belum selesai, dia menatap ke arah laut. Tubuhnya tampak jauh mencuat
karena tinggi tanggul jauh dari permukaan tanah. Dia telah naik dengan agak
susah setelah bersembunyi pada bangunan patung-patung abstrak yang menyebar di
wilayah pantai. Dengan cepat dia berjalan mengikuti alur tanggul. Makin lama
makin tinggi karena tanah pemijaknya mengalami abrasi. Sekarang dia berada di
ujungnya. Perempuan itu kini melihat ke bawah. Ada rasa merinding di tengkuknya
ketika dia melihat ke bawah.
“Hai…!”
seru polisi dari arah pos. Perempuan tadi menoleh dengan tatapan dingin, tak
menjawab. Tampak ada sesuatu yang mengusik dirinya. Polisi berjalan mendekat
sambil telunjuknya diacung-acungkan ke kiri kanan. Bibir perempuan tadi seperti
mau bergetar.
“Ismiy
Sulastri. Ana Indonesiya,” kata perempuan tadi terbata-bata, menujukkan nama
dan asalnya.
“Sulatsriy…?”
sang polisi menegaskan. Perempuan itu mengangguk.
“Wa
maadzaa sataf’aliina ya Sulatsriy?” sang polisi kembali bertanya apa yang akan
dikerjakan Sulastri. Perempuan itu tak menjawab. Polisi berbaret biru dan
berkulit gelap itu memberi isyarat agar Sulastri turun dari tanggul.
“Na’am?”
lelaki itu meminta.
“Laa,”
Sulastri menggeleng pelan.
Permintaan
diulang beberapa kali. Sulastri tetap menolak untuk turun. Sang polisi mulai
kehilangan kesabaran. Raut wajahnya yang coklat gelap tampak menegang. Dia
berjalan cepat menuju patahan tanggul yang belum selesai, kemudian menaiki
bongkahan-bongkahan batu. Terdengar dia menyeru kembali. Muncul kekhawatiran
pada diri Sulastri. Ketika polisi itu hampir sampai di atas tanggul, Sulastri
bergerak menjauh, makin cepat dan cepat. Sang polisi mengikuti dengan langkah
cepat pula. Keduanya tampak seperti berkejaran. Sesampai di ujung, Sulastri
menyelinap kembali pada area patung-patung abstrak. Polisi pun kembali ke
posnya.
Sulastri
tahu, polisi tak akan menangkapnya tanpa imbalan. Dia hanya menghindar sesaat dari
tindakan fisik. Polisi tak mungkin menyerahkannya pada kedutaan untuk
dideportasi. Seperti juga teman-teman senasib, Sulastri menggelandang. Kalau
ingin ditangkap dan dideportasi, dia harus bergabung dengan beberapa teman,
mengumpulkan uang setidaknya seribu real per orang, lalu diserahkan pada para
perantara yang bekerja ala mafia. Para perantara inilah yang akan menghubungi
polisi agar menangkap sekumpulan orang yang sudah diatur tempat dan waktunya.
Dari seribu real per orang, konon polisi akan mendapat tujuh ratus real per
orang, sisanya untuk para perantara. Polisi akan mengirim orang-orang tangkapan
ini ke kedutaan dengan surat deportasi. Kedutaanlah yang berkewajiban
menerbangkan mereka ke tanah air. Celakanya, ketika uang sudah diserahkan tapi penangkapan
tak kunjung tiba. Lebih celaka lagi, para perantara ternyata berasal dari
negeri Sulastri sendiri.
Cuaca
makin panas. Laut Merah tampak berkilau-kilau memantulkan sinar matahari.
Hamparan pasir mendidih, meliuk-liuk di permukannya. Sejenak angin bertiup
tipis. Serpihan-serpihan sampah bergerak menjauhi pantai. Di ujung tanggul Sulastri kembali berdiri. Persis di tempat
yang tadi ditinggalkan. Sang polisi melihatnya dari kejauhan. Kali ini lelaki
itu tak ingin repot, bibirnya mengatup hingga kumisnya tampak makin tebal.
Di
bibir Laut Merah, Sulastri teringat
ketika tercenung di tepi Bengawan Solo. Dari Desa Tegal Rejo dia menatap ke
seberang sungai ke arah Desa Titik. Tampak ada kuburan yang dirimbuni pepohonan
besar. Di sana ada seorang lelaki bertapa menginginkan kehadiran benda-benda
pusaka, membiarkan istri dan anak-anaknya jatuh bangun mempertahankan nyawa.
Lelaki itu bernama Markam, suami Sulastri. Suatu kali Markam pulang dengan
berenang menyeberangi Bengawan Solo.
“Sudah
dapat?” tanya Sulastri. Seperti biasa, Markam tak menjawab. Wajahnya tampak
pucat. Kumis dan jenggotnya memanjang menutup sepasang bibir yang bungkam.
Tetesan air masih jatuh dari pakainnya yang basah.
“Tanam
tembakau di tepi bengawan makin tak berharga. Dipermainkan pabrik rokok. Aku
tak sanggup begini terus. Apakah anak-anak akan kau beri makan keris dan tombak
tua?”
Kesabaran
Sulastri mengikis. Kali ini dia mengambil buku yang dulu sering dibaca dan
diceritakan Markam. Buku yang telah kumal itu disodorkan ke muka suaminya
hingga menyentuh ujung janggut.
“Kau
bukan Siddhartha, sang pertapa Gotama dari Kerajaan Sakya yang pergi bertapa
meninggalkan kemewahan. Istri dan anaknya ditinggal dengan harta berlimpah.
Tapi kau meninggalkan kemelaratan untuk aku dan anak-anak!”
Markam
hanya menjulingkan bola matanya, masuk ke dapur beberapa saat, mencari-cari
sesuatu, kemudian pergi kembali menyeberangi bengawan. Di sini, seorang suami
mengabdikan hidupnya untuk kuburan dan benda-benda pusaka yang tak kunjung
tiba. Museum Trinil tempatnya bekerja telah ditinggalkan begitu saja. Ini
berawal saat dia menuruni lembah berbatu di belakang museum itu. Dia menuju ke
aliran Bengawan Solo yang curam. Dari sana dia menghanyutkan diri hingga ke
Tegal Rejo. Pertapaan pun dimulai hingga kini.
Bayangan
tentang sang suami menghablur. Sulastri kembali menatap hamparan laut.
Burung-burung mengeluarkan bunyi cericitnya sambil menyambar-nyambar. Gelombang
tiba-tiba datang. Laut Merah bergolak. Ada pulasan-pulasan dan gelembung udara
naik ke permukaan. Makin lama makin besar. Sulastri terjingkat. Sesosok tubuh
tiba-tiba merekah. Tubuh yang sering diingat sebagai sang penerkam
sekonyong-konyong muncul dari dalam laut. Sulastri menjerit menyebut namanya.
“Firauuun…!”
Ya,
Firaun. Lelaki bertubuh gempal itu merayap menaiki tanggul. Otot-ototnya tampak
kekar, wajahnya kotak, matanya cekung, dan tubuhnya cenderung pendek, serta
dada terbuka. Dengan pakaian gemerlap yang menutup pusar hingga lutut Firaun
telah sampai di atas tanggul. Dia berdiri tegak sambil tertawa,
mengibas-ngibaskan anggota badan. Di hadapannya, tubuh Sulastri bergetar.
Sendi-sendinya seperti hendak rontok. Perempuan itu menoleh ke sana ke mari
dengan tergesa, mencari-cari orang yang dikenal sebagai penolong. Di pos sana
ada polisi. Sulastri berteriak padanya untuk minta tolong. Tapi sang polisi tak
memberi reaksi berarti, dia hanya melambaikan tangan beberapa saat seperti
mengucapkan selamat tinggal, kemudian kembali masuk pos.
“Tak
usah takut hai, Budak!” kata Firaun.
“Aku
bukan budak.…”
“Ooo…siapa
yang telah membayar untuk membebaskanmu? Semua adalah milikku. Semua adalah
aku!”
Sulastri
tak menjawab. Dia terus melangkah mundur sambil memulihkan diri. Sementara
Firaun menggerak-gerakkan lehernya untuk menghilangkan rasa penat. Sulastri
dengan cepat berbalik arah dan berlari.
“Hai,
jangan berlari! Kau datang ke sini untuk menghambakan diri. Kau adalah budak
milik tuanmu. Tunduklah ke hadapanku!”
Sulastri
terus berlari. Firaun melangkahkan kakinya, makin cepat dan cepat, lalu berlari.
Bunyi mendebam terasa di atas tanggul. Dari kejauhan terlihat seperti gadis
kecil dikejar oleh raksasa. Firaun menyeru-nyeru agar Sulastri berhenti, tapi
yang dikejar tak menghirau. Jarak pun makin dekat. Sulastri makin memeras
tenaga. Polisi penjaga pantai sudah pasti tak menolognya. Sementara Firaun
melejit makin garang. Sulastri meloncat dari atas tanggul.
Sulastri
terhenyak. Di depannya muncul seorang lelaki setengah tua, rambut putih sebahu,
tubuh tinggi besar, berjenggot panjang. Lelaki itu mengenakan kain putih
menutup perut hingga lutut. Ada selempang menyilang di bahu kanannya. Wajah
tampak teduh. Tangan kanannya membawa tongkat dari kayu kering. Mulut Sulastri
bergetar menyebut nama lelaki di hadapannya, “Ya, Musa….”
Lelaki
itu manggut-manggut. Tangan kirinya diangkat. Sementara Firaun yang tadi
memburu tampak berdiri kokoh di atas tanggul. Angin bergolak di sana.
“Tolonglah
saya, Ya Musa,” pinta Sulastri.
“Kau
masuk ke negeri ini secara haram. Bagaimana aku bisa menolongmu?” jawab Musa dengan
suara besar menggema.
“Saya
ditelantarkan suami, Ya Musa.”
“Suamimu
seorang penyembah berhala. Mengapa kau bergantung padanya?”
“Saya
seorang perempuan, Ya Musa.”
“Perempuan
atau laki diwajibkan mengubah nasibnya sendiri.”
“Negeri
kami miskin, Ya Musa.”
“Kekayaan
negerimu melimpah ruah. Kau lihat, di sini kering dan tandus.”
“Kami
tidak punya pekerjaan, Ya Musa.”
“Apa
bukan kalian yang malas hingga suka jalan pintas?”
“Kami
menderita, Ya Musa.”
“Para
pemimpin negerimu serakah.”
“Kami
tak kebagian, Ya Musa”
“Mereka
telah menjarah kekayaan negeri untuk diri sendiri, keluarga, golongan, serta
para cukongnya.”
“Kami
tak memperoleh keadilan, Ya Musa.”
“Di
negerimu keadilan telah jadi slogan.”
“Tolonglah
saya, Ya Musa.”
“Para
pemimpin negerimu juga tak bisa menolong. Kau hanya dibutuhkan saat pemilu.
Setelah itu kau dijadikan barang dagangan yang murah.”
“Tolonglah
saya, Ya Musa….”
Sontak
angin datang bergemuruh. Lelaki yang dipanggil sebagai Musa menghablur dalam
pandangan Sulastri. Dari atas tanggul Firaun tertawa makin keras dan berjalan
turun. Sulastri berlari kembali. Dia menuju ke polisi yang tadi dilihatnya.
Langkahnya terasa lebih berat karena menginjak pasir. Dia terengah-engah sampai
di depan sang polisi.
“Wa
maadzaa turiidiina aidlon?” polisi bertanya apa lagi yang diinginkan Sulastri.
“Tolong…
tolonglah saya.…”
Polisi
menggeleng-geleng sambil menunjuk-nunjuk ke tempat lain. Di bawah sinar
matahari Sulastri terus berlari menyisir bibir Laut Merah. Di belakangnya suara
Firaun terdengar meraung-raung. Makin dekat dan dekat. Bunyi mendebam sudah benar-benar di belakang Sulastri. Dan Firaun
memang sudah hampir menangkapnya.
Tangan Firaun yang kekar meraih baju Sulastri dari belakang. Baju itu
robek dan tertinggal di genggaman Firaun. Sulastri terus memacu langkahnya yang
hapir putus. Firaun makin menggeram. Kali ini rambut Sulastri yang panjang
dijambak dan ditarik kuat-kuat oleh Firaun. Rambut itu pun jebol dari akarnya.
Saat
Sulastri oleng dan kehabisan nafas, lelaki yang tadi dipanggil sebagai Musa
tiba-tiba muncul lagi di hadapannya. Tapi kali ini hadir sebagai siluet yang
samar. Sulastri meraih dan memeluknya sebagai jalan terakhir untuk
menyelamatkan diri dari kejaran Firaun. Saat itu juga Sulastri merasakan ada
benda di genggamannya. Makin nyata dan nyata. Benda itu adalah tongkat.
Sulastri memegang kuat-kuat dengan kedua tangannya.
Angin
bertiup amat kencang mengelilingi tubuh Sulastri. Dia merasakan tubuhnya
menjadi amat ringan. Ada kekuatan yang memompa dirinya. Sulastri berbalik arah.
Ketika Firaun menyeringai dan hendak menerkam, perempuan itu memukulkan tongkatnya
ke tubuh Firaun. Seperti sebuah tembikar yang pecah, tubuh Firaun jadi
berkeping-keping di pasir. Tongkat itu terasa licin dan menggeliat lepas dari
tangan Sulastri. Bersamaan dengan itu angin kencang mengangkut ombak ke
daratan. Dari dalam laut Sulastri melihat semacam ular besar menjulur dan
menyedot kepingan-kepingan tubuh Firaun. Dengan cepat binatang itu kembali ke
laut dibarengi suara gemuruh. Makin jauh dan jauh.
Sulastri mendapati dirinya bersimpuh di pasir pantai.
Tongkat yang tadi dipegangnya ternyata tak ada. Ia bertanya pada diri sendiri,
apakah ini hanya sebuah mimpi. Dipandangnya laut luas tak bertepi. Sulastri
masih di sini, di tepi Laut Merah yang sepi, jauh dari anak-anak dan famili.
Burung elang melayang tinggi di atasnya, pekiknya melengking ke telinga
Sulastri. (*)
Kritik
cerpen
Cerpen
memberikan hiburan bagi pembacanya, juga salah satu media yang digunakan dalam
melemparkan kritik terhadap suatu persoalan di sekitar kita baik itu kritik
politik, social, budaya, atau agama.
Seperti
pada cerpen “Sulastri dan Empat Lelaki” karya M. Shoim Anwar (Jawa Pos, 6
November 2011). Dengan apik dan menarik,
cerpen tersebut juga terdapat kisah yang selain penuh dengan kriti kritik/esai sastra
dengan bahan cerpen "Sulastri dan Empat Lelaki" ( link: https://lakonhidup.com/2011/12/05/sulastri-dan-empat-lelaki/
) juga aroma inspirasi dan pesan-pesan kehidupan.
Pada
cerpen tersebut berdasarkan unsur intrinsiknya sebagai berikut:
- - Latar yang
terdapat pada cerpen tersebut yaitu di laut merah, tepi bengawan solo, Desa
Tegal Rejo
- - Alur yang
digunakan dalam cerpen yaitu alur campuran.
- Tokoh yang
terdapat pada cerpen tersebut yaitu: perempuan yang bernama Ismy Sulastri,
polisi berbaret biru dan berkulit gelap, Suami Sulastri bernama Markam, Firaun,
dan Musa.
-
Sudut pandang
yang digunakan dalam cerpen yang berjudul Sulastri dan empat lelaki menggunakan
sudut pandang orang ketiga.
-
Amanat yang
terkandung dalam cerpen yaitu janganlah terlalu mengejar keyakinan namun
mengabaikan tanggung jawab di dunia, jika kita masih mampu bekerja, bekerjalah
dengan jujur, selalu berbuat baik karena jika kita berbuat baik nanti akan
dibalas dengan kebaikan, dan peran pemerintah sangat besar dalam menyedikan
lapangan pekerjaan dan bantuan pada masyarakat.
Isi
dari cerpen
Cerpen
yang berjudul Sulastri dan Empat lelaki menceritakan tentang salah satu
kehidupan di dunia. Sebuah kehidupan suami istri yang berliku. Seorang istri
yang ditinggalkan oleh suaminya untuk bertapa menjalankan kepercayaan yang
sedang diyakini sang suami tanpa menghiraukan nasib dan kehidupan keluarganya,
bahkan tidak menghiraukan sama sekali kehidupan anak dan istrinya. Sehingga,
seorang istri kabur ke Negara lain dengan cara yang tidak baik. Istri yang
menjadi penduduk illegal di dalam suatu Negara yang ditinggalinya saat ini.
Seorang
lelaki yang bernama Markan tidak lain sebagai suami Sulastri, memaparkan
tentang potret rumah tangga. Kisah ini sebagai sindiran bagi kaum lelaki,
karena disadari atau tidak ketika suami memiliki keyakinan ataupun kenbiasaan,
seharusnya tidak mengabaikan keluarganya. Seorang suami tidak boleh mengabaikan
keluarganya dan memiliki kewajiban menafkahi keluarga. Seperti yangterdapat
pada cerpen di atas, Markam yang memiliki kebiasaan bertapa, sehingga ia
mengabaikan keluarga terutama istri dan anaknya serta lupa bahwa ia memiliki
kewajiban menafkahi keluarganya.
“Negeri
kami miskin, Ya Musa”. “Kekayaan negerimu melimpah ruah. Kau lihat, di sini
kering dan tandus.”
Pada
kutipan di atas menjelaskan bahwa kondisi
ekonomi di Negaranya sedang tidak stabil. Sulastri yang keluarganya miskin
tidak mendapatkan perhatian dari negrinya sehingga ia melarikan diri ke Negara
lain. Namun, cara yang digunakan merupakan cara yang tidak baik sehingga ia pun
masih terlantar di Negara seberang.
“Kami
tidak punya pekerjaan, Ya Musa.”
“Apa
bukan kalian yang malas hingga suka jalan pintas?”
“Kami
menderita, Ya Musa.”
“Para
pemimpin negerimu serakah.”
“Kami
tak kebagian, Ya Musa”
“Mereka
telah menjarah kekayaan negeri untuk diri sendiri, keluarga, golongan, serta
para cukongnya.”
“Kami
tak memperoleh keadilan, Ya Musa.”
“Di
negerimu keadilan telah jadi slogan.”
“Tolonglah
saya, Ya Musa.”
“Para
pemimpin negerimu juga tak bisa menolong. Kau hanya dibutuhkan saat pemilu.
Setelah itu kau dijadikan barang dagangan yang murah.”
Pada
kutipa di atas penulis menerangkan bahwa di negerinya kurang adanya pemerataan
bantuan ekonomi sehingga ada keluarga yang merasa kesusahan karena miskin.
Namun, tanpa perhatian dari para penguasa di negri tersebut. Masyarakat disana
dicari dan dibutuhkan hanya pada saat pemilu berlangsung para calon penguasa
meminta dukungan pada orang-orang atau masyarakat.
Berdasarkan
fakta aktual
Berdasarkan
cerpen tersebut terdapat kesamaan dengan keadaan saat ini. Seperti yang
dilakukan sepasang suami istri tersebut. Terkadang masih ada orang yang terlalu
mengejar akhirat aktif dalam segala hal menyangkut agama, namun disamping itu
tidak menunaikan kewajibannya untuk menafkahi keluarganya. Kata lain sang suami
tidak bekerja ia hanya melakukan kegiatan keagamaan saja. Sehingga sang istri
bekerja banting tulang untuk menghidupi anaknya dan keluarganya ia sebagai
tulang punggung keluarganya yang seharusnya itu peran dari sang suami.
Pada kutipan “Sulastri tahu, polisi tak akan menangkapnya tanpa
imbalan. Dia hanya menghindar sesaat dari tindakan fisik. Polisi tak mungkin
menyerahkannya pada kedutaan untuk dideportasi. Seperti juga teman-teman
senasib, Sulastri menggelandang. Kalau ingin ditangkap dan dideportasi, dia
harus bergabung dengan beberapa teman, mengumpulkan uang setidaknya seribu real
per orang, lalu diserahkan pada para perantara yang bekerja ala mafia. Para
perantara inilah yang akan menghubungi polisi agar menangkap sekumpulan orang
yang sudah diatur tempat dan waktunya. Dari seribu real per orang, konon polisi
akan mendapat tujuh ratus real per orang, sisanya untuk para perantara. Polisi
akan mengirim orang-orang tangkapan ini ke kedutaan dengan surat deportasi. Kedutaanlah
yang berkewajiban menerbangkan mereka ke tanah air. Celakanya, ketika uang
sudah diserahkan tapi penangkapan tak kunjung tiba. Lebih celaka lagi, para
perantara ternyata berasal dari negeri Sulastri sendiri.”
Pada
dunia apolitik juga ada beberapa kesamaan seperti saat terjadi pilihan anggota
pemerinntah. Pra calon mendekati rakyat untuk meminta dukungan kepada
masyarakat dari kalangan bawah sampai atas tanpa terkecuali. bahwa polisi juga
bekerja sama dengan para perantara. Polisi tidak mungkin menangkap Sulastri
untuk diserahkan kepada kedutaan untuk dideportasi karena ia hanya seorang
diri. Para perantaralah yang bertugas menyerakan kepada polisi dengan imbalan
seribu real per orang, sehingga polisi mendapat untung setidaknya tujuh ratus
real per orang dan sisanya untuk diberikan kepada para perantara. Yang lebih
buruk lagi, jika para perantara tersebut juga dari negara yang sama dengan
Sulastri. Kejadian dalam kutipan cerpen tersebut termasuk ke dalam unsur
politik. Dimana terjadi suatu transaksi disana. Polisi menjalankan tugasnya
dengan syarat ada imbalan diluar gaji yang telah mereka terima dari pemerintah.
Tindakan polisi tersebut tidaklah jujur dan membuat mereka yang bekerja di luar
negeri seperti Sulastri menjadi serba kesulitan dan sengsara. Terlebih seperti
yang dialami oleh teman-teman Sulastri yang hidup menggelandang.
Pada
bidang sosial di negara pada saat ini juga masih ada kesamaan. Saat ini pun
masih ada masyarakat yang tergolong menengah ke bawah atau kurang mampu. Namun,
adapun perbedaan jika pad saat ini kemungkinan pemerataan bantuan dari
pemerintah sudah ada dapat dikatakan rakyat yang tergolong kurang mampu sudah
ada bantuan dari pemerintah. Namun, mirisnya saat ini masih terdapat orang yang
pengangguran sehingga masalah ekonomi bisa dikkatakan kurang merata.