Sabtu, 24 April 2021

KRITIK dan ESAI CERPEN "SULASTRI DAN EMPAT LELAKI"

 

Sulastri dan Empat Lelaki

Cerpen M. Shoim Anwar (Jawa Pos, 6 November 2011)

LAUT menghampar dari pantai hingga batas tak terhingga. Ini adalah Laut Merah. Ombak besar tak juga datang. Hanya semacam geligir bergerak di permukaan. Udara terasa panas. Butir-butir pasir digoreng matahari. Tak ada peneduh yang berarti. Pantai menyengat sepanjang garisnya. Dermaga yang menjorok ke tengah tampak sepi. Katrol di ujung dermaga juga masih berdiri kokoh dalam kehampaan. Tiang-tiang pengikat seperti tak pernah jenuh menanti kapal-kapal yang merapat dari negeri jauh melalui Lautan Hindia atau Terusan Suez, atau dari negeri di sebelah barat, mungkin Mesir, Sudan, Eritrea, atau angkutan domestik yang memilih jalur laut. Di bibir Laut Merah, dari Yaman hingga perbatasan Yordania, cuaca terasa membara.

 

Sementara tak jauh di sebelah utara sana terlihat sekelompok bangunan  dirimbuni pohon-pohon kurma. Burung-burung datang dan pergi dari sana. Seekor gagak masih tampak menuju ke arahnya. Sedangkan beberapa burung laut berpunggung perak beterbangan menyisir permukaan air. Seorang polisi berseragam biru tua berdiri di depan posnya. Sesekali dia meninggalkan tempatnya beberapa meter, mungkin membunuh kejenuhan, lantas kembali ke tempat semula.

 

Perempuan itu masih juga berdiri di atas tanggul. Pada ujungnya yang terkesan patah karena belum selesai, dia menatap ke arah laut. Tubuhnya tampak jauh mencuat karena tinggi tanggul jauh dari permukaan tanah. Dia telah naik dengan agak susah setelah bersembunyi pada bangunan patung-patung abstrak yang menyebar di wilayah pantai. Dengan cepat dia berjalan mengikuti alur tanggul. Makin lama makin tinggi karena tanah pemijaknya mengalami abrasi. Sekarang dia berada di ujungnya. Perempuan itu kini melihat ke bawah. Ada rasa merinding di tengkuknya ketika dia melihat ke bawah.

 

“Hai…!” seru polisi dari arah pos. Perempuan tadi menoleh dengan tatapan dingin, tak menjawab. Tampak ada sesuatu yang mengusik dirinya. Polisi berjalan mendekat sambil telunjuknya diacung-acungkan ke kiri kanan. Bibir perempuan tadi seperti mau bergetar.

 

“Ismiy Sulastri. Ana Indonesiya,” kata perempuan tadi terbata-bata, menujukkan nama dan asalnya.

 

“Sulatsriy…?” sang polisi menegaskan. Perempuan itu mengangguk.

 

“Wa maadzaa sataf’aliina ya Sulatsriy?” sang polisi kembali bertanya apa yang akan dikerjakan Sulastri. Perempuan itu tak menjawab. Polisi berbaret biru dan berkulit gelap itu memberi isyarat agar Sulastri turun dari tanggul.

 

“Na’am?” lelaki itu meminta.

 

“Laa,” Sulastri menggeleng pelan.

 

Permintaan diulang beberapa kali. Sulastri tetap menolak untuk turun. Sang polisi mulai kehilangan kesabaran. Raut wajahnya yang coklat gelap tampak menegang. Dia berjalan cepat menuju patahan tanggul yang belum selesai, kemudian menaiki bongkahan-bongkahan batu. Terdengar dia menyeru kembali. Muncul kekhawatiran pada diri Sulastri. Ketika polisi itu hampir sampai di atas tanggul, Sulastri bergerak menjauh, makin cepat dan cepat. Sang polisi mengikuti dengan langkah cepat pula. Keduanya tampak seperti berkejaran. Sesampai di ujung, Sulastri menyelinap kembali pada area patung-patung abstrak. Polisi pun kembali ke posnya.

 

Sulastri tahu, polisi tak akan menangkapnya tanpa imbalan. Dia hanya menghindar sesaat dari tindakan fisik. Polisi tak mungkin menyerahkannya pada kedutaan untuk dideportasi. Seperti juga teman-teman senasib, Sulastri menggelandang. Kalau ingin ditangkap dan dideportasi, dia harus bergabung dengan beberapa teman, mengumpulkan uang setidaknya seribu real per orang, lalu diserahkan pada para perantara yang bekerja ala mafia. Para perantara inilah yang akan menghubungi polisi agar menangkap sekumpulan orang yang sudah diatur tempat dan waktunya. Dari seribu real per orang, konon polisi akan mendapat tujuh ratus real per orang, sisanya untuk para perantara. Polisi akan mengirim orang-orang tangkapan ini ke kedutaan dengan surat deportasi. Kedutaanlah yang berkewajiban menerbangkan mereka ke tanah air. Celakanya, ketika uang sudah diserahkan tapi penangkapan tak kunjung tiba. Lebih celaka lagi, para perantara ternyata berasal dari negeri Sulastri sendiri.

 

Cuaca makin panas. Laut Merah tampak berkilau-kilau memantulkan sinar matahari. Hamparan pasir mendidih, meliuk-liuk di permukannya. Sejenak angin bertiup tipis. Serpihan-serpihan sampah bergerak menjauhi pantai. Di ujung tanggul  Sulastri kembali berdiri. Persis di tempat yang tadi ditinggalkan. Sang polisi melihatnya dari kejauhan. Kali ini lelaki itu tak ingin repot, bibirnya mengatup hingga kumisnya tampak makin tebal.

 

Di bibir Laut Merah, Sulastri  teringat ketika tercenung di tepi Bengawan Solo. Dari Desa Tegal Rejo dia menatap ke seberang sungai ke arah Desa Titik. Tampak ada kuburan yang dirimbuni pepohonan besar. Di sana ada seorang lelaki bertapa menginginkan kehadiran benda-benda pusaka, membiarkan istri dan anak-anaknya jatuh bangun mempertahankan nyawa. Lelaki itu bernama Markam, suami Sulastri. Suatu kali Markam pulang dengan berenang menyeberangi Bengawan Solo.

 

“Sudah dapat?” tanya Sulastri. Seperti biasa, Markam tak menjawab. Wajahnya tampak pucat. Kumis dan jenggotnya memanjang menutup sepasang bibir yang bungkam. Tetesan air masih jatuh dari pakainnya yang basah.

 

“Tanam tembakau di tepi bengawan makin tak berharga. Dipermainkan pabrik rokok. Aku tak sanggup begini terus. Apakah anak-anak akan kau beri makan keris dan tombak tua?”

 

Kesabaran Sulastri mengikis. Kali ini dia mengambil buku yang dulu sering dibaca dan diceritakan Markam. Buku yang telah kumal itu disodorkan ke muka suaminya hingga menyentuh ujung janggut.

 

“Kau bukan Siddhartha, sang pertapa Gotama dari Kerajaan Sakya yang pergi bertapa meninggalkan kemewahan. Istri dan anaknya ditinggal dengan harta berlimpah. Tapi kau meninggalkan kemelaratan untuk aku dan anak-anak!”

 

Markam hanya menjulingkan bola matanya, masuk ke dapur beberapa saat, mencari-cari sesuatu, kemudian pergi kembali menyeberangi bengawan. Di sini, seorang suami mengabdikan hidupnya untuk kuburan dan benda-benda pusaka yang tak kunjung tiba. Museum Trinil tempatnya bekerja telah ditinggalkan begitu saja. Ini berawal saat dia menuruni lembah berbatu di belakang museum itu. Dia menuju ke aliran Bengawan Solo yang curam. Dari sana dia menghanyutkan diri hingga ke Tegal Rejo. Pertapaan pun dimulai hingga kini.

 

Bayangan tentang sang suami menghablur. Sulastri kembali menatap hamparan laut. Burung-burung mengeluarkan bunyi cericitnya sambil menyambar-nyambar. Gelombang tiba-tiba datang. Laut Merah bergolak. Ada pulasan-pulasan dan gelembung udara naik ke permukaan. Makin lama makin besar. Sulastri terjingkat. Sesosok tubuh tiba-tiba merekah. Tubuh yang sering diingat sebagai sang penerkam sekonyong-konyong muncul dari dalam laut. Sulastri menjerit menyebut namanya.

 

“Firauuun…!”

 

Ya, Firaun. Lelaki bertubuh gempal itu merayap menaiki tanggul. Otot-ototnya tampak kekar, wajahnya kotak, matanya cekung, dan tubuhnya cenderung pendek, serta dada terbuka. Dengan pakaian gemerlap yang menutup pusar hingga lutut Firaun telah sampai di atas tanggul. Dia berdiri tegak sambil tertawa, mengibas-ngibaskan anggota badan. Di hadapannya, tubuh Sulastri bergetar. Sendi-sendinya seperti hendak rontok. Perempuan itu menoleh ke sana ke mari dengan tergesa, mencari-cari orang yang dikenal sebagai penolong. Di pos sana ada polisi. Sulastri berteriak padanya untuk minta tolong. Tapi sang polisi tak memberi reaksi berarti, dia hanya melambaikan tangan beberapa saat seperti mengucapkan selamat tinggal, kemudian kembali masuk pos.

 

“Tak usah takut hai, Budak!” kata Firaun.

 

“Aku bukan budak.…”

 

“Ooo…siapa yang telah membayar untuk membebaskanmu? Semua adalah milikku. Semua adalah aku!”

 

Sulastri tak menjawab. Dia terus melangkah mundur sambil memulihkan diri. Sementara Firaun menggerak-gerakkan lehernya untuk menghilangkan rasa penat. Sulastri dengan cepat berbalik arah dan berlari.

 

“Hai, jangan berlari! Kau datang ke sini untuk menghambakan diri. Kau adalah budak milik tuanmu. Tunduklah ke hadapanku!”

 

Sulastri terus berlari. Firaun melangkahkan kakinya, makin cepat dan cepat, lalu berlari. Bunyi mendebam terasa di atas tanggul. Dari kejauhan terlihat seperti gadis kecil dikejar oleh raksasa. Firaun menyeru-nyeru agar Sulastri berhenti, tapi yang dikejar tak menghirau. Jarak pun makin dekat. Sulastri makin memeras tenaga. Polisi penjaga pantai sudah pasti tak menolognya. Sementara Firaun melejit makin garang. Sulastri meloncat dari atas tanggul.

 

Sulastri terhenyak. Di depannya muncul seorang lelaki setengah tua, rambut putih sebahu, tubuh tinggi besar, berjenggot panjang. Lelaki itu mengenakan kain putih menutup perut hingga lutut. Ada selempang menyilang di bahu kanannya. Wajah tampak teduh. Tangan kanannya membawa tongkat dari kayu kering. Mulut Sulastri bergetar menyebut nama lelaki di hadapannya, “Ya, Musa….”

 

Lelaki itu manggut-manggut. Tangan kirinya diangkat. Sementara Firaun yang tadi memburu tampak berdiri kokoh di atas tanggul. Angin bergolak di sana.

 

“Tolonglah saya, Ya Musa,” pinta Sulastri.

 

“Kau masuk ke negeri ini secara haram. Bagaimana aku bisa menolongmu?” jawab Musa dengan suara besar menggema.

 

“Saya ditelantarkan suami, Ya Musa.”

 

“Suamimu seorang penyembah berhala. Mengapa kau bergantung padanya?”

 

“Saya seorang perempuan, Ya Musa.”

 

“Perempuan atau laki diwajibkan mengubah nasibnya sendiri.”

 

“Negeri kami miskin, Ya Musa.”

 

“Kekayaan negerimu melimpah ruah. Kau lihat, di sini kering dan tandus.”

 

“Kami tidak punya pekerjaan, Ya Musa.”

 

“Apa bukan kalian yang malas hingga suka jalan pintas?”

 

“Kami menderita, Ya Musa.”

 

“Para pemimpin negerimu serakah.”

 

“Kami tak kebagian, Ya Musa”

 

“Mereka telah menjarah kekayaan negeri untuk diri sendiri, keluarga, golongan, serta para cukongnya.”

 

“Kami tak memperoleh keadilan, Ya Musa.”

 

“Di negerimu keadilan telah jadi slogan.”

 

“Tolonglah saya, Ya Musa.”

 

“Para pemimpin negerimu juga tak bisa menolong. Kau hanya dibutuhkan saat pemilu. Setelah itu kau dijadikan barang dagangan yang murah.”

 

“Tolonglah saya, Ya Musa….”

 

Sontak angin datang bergemuruh. Lelaki yang dipanggil sebagai Musa menghablur dalam pandangan Sulastri. Dari atas tanggul Firaun tertawa makin keras dan berjalan turun. Sulastri berlari kembali. Dia menuju ke polisi yang tadi dilihatnya. Langkahnya terasa lebih berat karena menginjak pasir. Dia terengah-engah sampai di depan sang polisi.

 

“Wa maadzaa turiidiina aidlon?” polisi bertanya apa lagi yang diinginkan  Sulastri.

 

“Tolong… tolonglah  saya.…”

 

Polisi menggeleng-geleng sambil menunjuk-nunjuk ke tempat lain. Di bawah sinar matahari Sulastri terus berlari menyisir bibir Laut Merah. Di belakangnya suara Firaun terdengar meraung-raung. Makin dekat dan dekat. Bunyi mendebam sudah  benar-benar di belakang Sulastri. Dan Firaun memang sudah hampir menangkapnya.   Tangan Firaun yang kekar meraih baju Sulastri dari belakang. Baju itu robek dan tertinggal di genggaman Firaun. Sulastri terus memacu langkahnya yang hapir putus. Firaun makin menggeram. Kali ini rambut Sulastri yang panjang dijambak dan ditarik kuat-kuat oleh Firaun. Rambut itu pun jebol dari akarnya.

 

Saat Sulastri oleng dan kehabisan nafas, lelaki yang tadi dipanggil sebagai Musa tiba-tiba muncul lagi di hadapannya. Tapi kali ini hadir sebagai siluet yang samar. Sulastri meraih dan memeluknya sebagai jalan terakhir untuk menyelamatkan diri dari kejaran Firaun. Saat itu juga Sulastri merasakan ada benda di genggamannya. Makin nyata dan nyata. Benda itu adalah tongkat. Sulastri memegang kuat-kuat dengan kedua tangannya.

 

Angin bertiup amat kencang mengelilingi tubuh Sulastri. Dia merasakan tubuhnya menjadi amat ringan. Ada kekuatan yang memompa dirinya. Sulastri berbalik arah. Ketika Firaun menyeringai dan hendak menerkam, perempuan itu memukulkan tongkatnya ke tubuh Firaun. Seperti sebuah tembikar yang pecah, tubuh Firaun jadi berkeping-keping di pasir. Tongkat itu terasa licin dan menggeliat lepas dari tangan Sulastri. Bersamaan dengan itu angin kencang mengangkut ombak ke daratan. Dari dalam laut Sulastri melihat semacam ular besar menjulur dan menyedot kepingan-kepingan tubuh Firaun. Dengan cepat binatang itu kembali ke laut dibarengi suara gemuruh. Makin jauh dan jauh.

 

Sulastri  mendapati dirinya bersimpuh di pasir pantai. Tongkat yang tadi dipegangnya ternyata tak ada. Ia bertanya pada diri sendiri, apakah ini hanya sebuah mimpi. Dipandangnya laut luas tak bertepi. Sulastri masih di sini, di tepi Laut Merah yang sepi, jauh dari anak-anak dan famili. Burung elang melayang tinggi di atasnya, pekiknya melengking ke telinga Sulastri. (*)

 








Kritik cerpen

Cerpen memberikan hiburan bagi pembacanya, juga salah satu media yang digunakan dalam melemparkan kritik terhadap suatu persoalan di sekitar kita baik itu kritik politik, social, budaya, atau agama.

Seperti pada cerpen “Sulastri dan Empat Lelaki” karya M. Shoim Anwar (Jawa Pos, 6 November 2011).  Dengan apik dan menarik, cerpen tersebut juga terdapat kisah yang selain penuh dengan kriti kritik/esai  sastra  dengan bahan cerpen "Sulastri dan Empat Lelaki" ( link: https://lakonhidup.com/2011/12/05/sulastri-dan-empat-lelaki/ ) juga aroma inspirasi dan pesan-pesan kehidupan.

Pada cerpen tersebut berdasarkan unsur intrinsiknya sebagai berikut:

-        -  Latar yang terdapat pada cerpen tersebut yaitu di laut merah, tepi bengawan solo, Desa Tegal Rejo

-        -  Alur yang digunakan dalam cerpen yaitu alur campuran.

-           Tokoh yang terdapat pada cerpen tersebut yaitu: perempuan yang bernama Ismy Sulastri, polisi berbaret biru dan berkulit gelap, Suami Sulastri bernama Markam, Firaun, dan Musa.

-          Sudut pandang yang digunakan dalam cerpen yang berjudul Sulastri dan empat lelaki menggunakan sudut pandang orang ketiga.

-          Amanat yang terkandung dalam cerpen yaitu janganlah terlalu mengejar keyakinan namun mengabaikan tanggung jawab di dunia, jika kita masih mampu bekerja, bekerjalah dengan jujur, selalu berbuat baik karena jika kita berbuat baik nanti akan dibalas dengan kebaikan, dan peran pemerintah sangat besar dalam menyedikan lapangan pekerjaan dan bantuan pada masyarakat.

 

Isi dari cerpen

Cerpen yang berjudul Sulastri dan Empat lelaki menceritakan tentang salah satu kehidupan di dunia. Sebuah kehidupan suami istri yang berliku. Seorang istri yang ditinggalkan oleh suaminya untuk bertapa menjalankan kepercayaan yang sedang diyakini sang suami tanpa menghiraukan nasib dan kehidupan keluarganya, bahkan tidak menghiraukan sama sekali kehidupan anak dan istrinya. Sehingga, seorang istri kabur ke Negara lain dengan cara yang tidak baik. Istri yang menjadi penduduk illegal di dalam suatu Negara yang ditinggalinya saat ini.

Seorang lelaki yang bernama Markan tidak lain sebagai suami Sulastri, memaparkan tentang potret rumah tangga. Kisah ini sebagai sindiran bagi kaum lelaki, karena disadari atau tidak ketika suami memiliki keyakinan ataupun kenbiasaan, seharusnya tidak mengabaikan keluarganya. Seorang suami tidak boleh mengabaikan keluarganya dan memiliki kewajiban menafkahi keluarga. Seperti yangterdapat pada cerpen di atas, Markam yang memiliki kebiasaan bertapa, sehingga ia mengabaikan keluarga terutama istri dan anaknya serta lupa bahwa ia memiliki kewajiban menafkahi keluarganya.

“Negeri kami miskin, Ya Musa”. “Kekayaan negerimu melimpah ruah. Kau lihat, di sini kering dan tandus.”

Pada kutipan di atas menjelaskan bahwa kondisi  ekonomi di Negaranya sedang tidak stabil. Sulastri yang keluarganya miskin tidak mendapatkan perhatian dari negrinya sehingga ia melarikan diri ke Negara lain. Namun, cara yang digunakan merupakan cara yang tidak baik sehingga ia pun masih terlantar di Negara seberang.

“Kami tidak punya pekerjaan, Ya Musa.”

“Apa bukan kalian yang malas hingga suka jalan pintas?”

“Kami menderita, Ya Musa.”

“Para pemimpin negerimu serakah.”

“Kami tak kebagian, Ya Musa”

“Mereka telah menjarah kekayaan negeri untuk diri sendiri, keluarga, golongan, serta para cukongnya.”

“Kami tak memperoleh keadilan, Ya Musa.”

“Di negerimu keadilan telah jadi slogan.”

“Tolonglah saya, Ya Musa.”

“Para pemimpin negerimu juga tak bisa menolong. Kau hanya dibutuhkan saat pemilu. Setelah itu kau dijadikan barang dagangan yang murah.”

Pada kutipa di atas penulis menerangkan bahwa di negerinya kurang adanya pemerataan bantuan ekonomi sehingga ada keluarga yang merasa kesusahan karena miskin. Namun, tanpa perhatian dari para penguasa di negri tersebut. Masyarakat disana dicari dan dibutuhkan hanya pada saat pemilu berlangsung para calon penguasa meminta dukungan pada orang-orang atau masyarakat.

Berdasarkan fakta aktual

Berdasarkan cerpen tersebut terdapat kesamaan dengan keadaan saat ini. Seperti yang dilakukan sepasang suami istri tersebut. Terkadang masih ada orang yang terlalu mengejar akhirat aktif dalam segala hal menyangkut agama, namun disamping itu tidak menunaikan kewajibannya untuk menafkahi keluarganya. Kata lain sang suami tidak bekerja ia hanya melakukan kegiatan keagamaan saja. Sehingga sang istri bekerja banting tulang untuk menghidupi anaknya dan keluarganya ia sebagai tulang punggung keluarganya yang seharusnya itu peran dari sang suami.

Pada kutipan “Sulastri tahu, polisi tak akan menangkapnya tanpa imbalan. Dia hanya menghindar sesaat dari tindakan fisik. Polisi tak mungkin menyerahkannya pada kedutaan untuk dideportasi. Seperti juga teman-teman senasib, Sulastri menggelandang. Kalau ingin ditangkap dan dideportasi, dia harus bergabung dengan beberapa teman, mengumpulkan uang setidaknya seribu real per orang, lalu diserahkan pada para perantara yang bekerja ala mafia. Para perantara inilah yang akan menghubungi polisi agar menangkap sekumpulan orang yang sudah diatur tempat dan waktunya. Dari seribu real per orang, konon polisi akan mendapat tujuh ratus real per orang, sisanya untuk para perantara. Polisi akan mengirim orang-orang tangkapan ini ke kedutaan dengan surat deportasi. Kedutaanlah yang berkewajiban menerbangkan mereka ke tanah air. Celakanya, ketika uang sudah diserahkan tapi penangkapan tak kunjung tiba. Lebih celaka lagi, para perantara ternyata berasal dari negeri Sulastri sendiri.”

Pada dunia apolitik juga ada beberapa kesamaan seperti saat terjadi pilihan anggota pemerinntah. Pra calon mendekati rakyat untuk meminta dukungan kepada masyarakat dari kalangan bawah sampai atas tanpa terkecuali. bahwa polisi juga bekerja sama dengan para perantara. Polisi tidak mungkin menangkap Sulastri untuk diserahkan kepada kedutaan untuk dideportasi karena ia hanya seorang diri. Para perantaralah yang bertugas menyerakan kepada polisi dengan imbalan seribu real per orang, sehingga polisi mendapat untung setidaknya tujuh ratus real per orang dan sisanya untuk diberikan kepada para perantara. Yang lebih buruk lagi, jika para perantara tersebut juga dari negara yang sama dengan Sulastri. Kejadian dalam kutipan cerpen tersebut termasuk ke dalam unsur politik. Dimana terjadi suatu transaksi disana. Polisi menjalankan tugasnya dengan syarat ada imbalan diluar gaji yang telah mereka terima dari pemerintah. Tindakan polisi tersebut tidaklah jujur dan membuat mereka yang bekerja di luar negeri seperti Sulastri menjadi serba kesulitan dan sengsara. Terlebih seperti yang dialami oleh teman-teman Sulastri yang hidup menggelandang.

Pada bidang sosial di negara pada saat ini juga masih ada kesamaan. Saat ini pun masih ada masyarakat yang tergolong menengah ke bawah atau kurang mampu. Namun, adapun perbedaan jika pad saat ini kemungkinan pemerataan bantuan dari pemerintah sudah ada dapat dikatakan rakyat yang tergolong kurang mampu sudah ada bantuan dari pemerintah. Namun, mirisnya saat ini masih terdapat orang yang pengangguran sehingga masalah ekonomi bisa dikkatakan kurang merata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KRITIK KUMPULAN CERPEN KARYA M. SHOIM ANWAR

  Kritik Kumpulan Cerpen Pada saat ini esai yang dibuat berisikan kumpulan cerpen karya M. Shoim Anwar yang terdiri dari lima cerpen. Kump...