Sisik Naga di Jari Manis
Gus Usup
Written by M. Shoim Anwar
Gus Usup bukanlah orang biasa. Kami
menghormatinya sebagaimana kami menghormati orang-orang terhormat. Penghormatan
terhadap Gus Usup telah dilakukan para tetua sehingga tak ada alasan buat kami
untuk tidak berlaku hormat padanya. Ketika dia melintas di jalan, orang-orang
menyapanya dengan penuh rasa hormat, sedikit membungkukkan badan, menanyakan
mau ke mana, hingga mempersilakan mampir ke rumah. Sebuah kehormatan luar biasa
bila Gus Usup berkenan singgah dan menyeruput kopi yang kami suguhkan. Tentu
saja ini jarang terjadi. Gus Usup menjawab sapaan kami dengan tersenyum sambil
terus mengayuh sepedanya.
“Assalamu’alaikum, Gus,” begitulah
kami menyapa ketika beliau lewat. Salam itu dijawabnya dengan sopan pula.
“Mampir dulu, Gus.”
“Inggih, terima kasih,” jawabnya
lembut.
Gus Usup bukanlah orang sembarangan. Itulah pandangan kami selama
ini. Karenanya kami sebagai orang biasa tidak pernah memperlakukannya secara
sembarangan pula. Kami tidak pernah menggunjing tentangnya. Segala yang terkait
dengan Gus Usup kami anggap sebagai sesuatu yang wajar. Tidak ada prasangka
buruk sekecil biji zarah pun terhadap Gus Usup. Sikap dan pembicaraan para
orang tua kami seakan memberi contoh bahwa begitulah yang harus kami lakukan
terhadap Gus Usup, termasuk kepada saudaranya seperti Gus Man, Gus Mak, Gus
Roz, dan Gus Zin. Kami memang memanggil dengan sapaan “gus” untuk laki-laki
keluarga pondok. Di antara mereka itu hanya Gus Usup yang bergaul akrab dengan
siapa saja.
Gus Usup terbilang tampan. Wajah dan kulitnya kuning bersih.
Rambutnya selalu dipotong pendek. Karena tak pernah memakai kopiah, rambut
bagian depan yang agak panjang terlihat ikal menggelombang. Alisnya cenderung
tebal. Dia tak pernah memelihara kumis dan jenggot, tapi tepat di bagian bawah
bibirnya terdapat rambut yang dibiarkan tumbuh hingga membentuk gerumbul yang
manis di wajahnya. Sering dia mengangkat ujung sarung hingga sebatas dengkul
saat berjalan. Bulu-bulu keriting kelihatan tumbuh lebat di kakinya yang
kuning. Mungkin karena ketampanannya itulah Gus Usup menjadi anak kesayangan Bu
Nyai.
“Sejak anak-anak, Gus Usup itu suka main dengan anak-anak
kampung,” cerita Guk Mat sebagai teman sepermainannya.
“Apa kesukaannya, Guk?” kami bertanya.
“Menghanyutkan diri dengan rakit dari batang pisang, lalu mandi
bersama-sama di Kali Dam sambil belajar renang gaya sungai,” lanjut Guk Mat
sambil memperagakan renang gaya sungai. “Gus Usup juga suka mencari batu-batu
kecil di dasar sungai.”
“Untuk apa batu?”
“Katanya itu batu akik.”
“Kalau ketahuan keluarga pondok, Gus Usup dimarahi apa nggak,
Guk?”
Guk Mat tersenyum. Sepertinya dia memang punya kenangan masa kecil
yang seru dengan Gus Usup.
“Ya, sering. Gus Man itu, kakaknya yang paling besar, sering
mencarinya. Gus Usup diseret pulang kalau ketahuan mandi di sungai. Makanya
kalau habis mandi Gus Usup nggak berani langsung pulang.”
“Kenapa, Guk?” kami makin ingin tahu.
“Kalau habis mandi di sungai mata pasti merah warnanya. Makanya
kalau pulang harus nunggu lama sampai nggak merah lagi. Tapi itu dulu,” kata
Guk Mat. “Sekarang Kali Dam sudah tercemar sampah dan limbah.”
Inilah satu kebiasaan lain Gus Usup. Kami hampir selalu melihat
dia menggigit-gigit benda kecil semacam tusuk gigi hingga kedua rahangnya
bergerak-gerak. Sering dia menggapai ranting-ranting kecil ketika berjalan,
atau bagian-bagian tertentu dari pagar bambu di tepi jalan yang dilewatinya
untuk digigit-gigit menggantikan yang telah habis di bibirnya. Mohon maaf kalau
perumpamaan kami tidak tepat. Kesukaan Gus Usup menggigit-gigit lidi itu mirip
kebiasaan burung labet yang hendak bersarang.
Seperti yang sering kami lihat, pagi itu tampak Gus Usup berjalan
meniti pematang di jauh sana. Dia kembali pulang setelah semalam bermain kartu
remi dengan orang-orang kampung di sebelah timur, di rumah Wak Parmin dekat
kuburan. Rumah Gus Usup di lingkungan pondok dengan kampung kami memang dipisah
oleh bentangan sawah. Kami tetap tahu meski dia berjalan sambil sarungnya
diangkat hingga menutup kepala. Bila Gus Usup tidak pulang, Fadilah,
keponakannya, sering mencari di pojok kampung tempat dia bermain kartu.
Meski umurnya terbilang lebih dari cukup, Gus Usup belum menikah.
Guk Mat, teman sepermainan Gus Usup itu, sudah memiliki tiga orang anak. Tapi
Gus Usup belum ada tanda-tanda mau menikah. Dulu kabarnya dia akan dijodohkan
dengan Ning Sokhifah, anak Gus Bay dari pondok utara, tapi tak ada
kelanjutannya. Justru Ning Sokhifah malah menikah dengan Gus Roz, adik Gus Usup
dari ibu yang berbeda. Entah mengapa Gus Usup belum menikah, padahal kalau dia
mau, tinggal memilih bidadari di kampung kami yang paling cantik pasti
terkabul. Kami tahu hampir semua gadis di sini ingin jadi menantu keluarga
pondok. Para gadis pun diam-diam berusaha menampakkan diri ketika Gus Usup yang
tampan itu lewat. Tapi memang begitulah adanya. Keluarga pondok biasanya
mengambil menantu juga dari keluarga pondok yang lain, meskipun antarmereka
masih memiliki hubungan kerabat. Tapi sayang, hubungan antarpondok sekarang
banyak yang kurang akrab karena para pengasuhnya terlibat dukung-mendukung
partai politik yang berbeda. Mereka bahkan bersaing tidak sehat dalam
pencalonan anggota parlemen maupun kepala daerah. Syukurlah hingga detik ini
Gus Usup tidak termakan godaan partai politik hingga bisa bergaul dengan siapa
saja.
Sebagai teman sepermainan Gus Usup, Guk Mat bekerja di pabrik
gula. Tapi pekerjaan Gus Usup tidak terlalu jelas buat kami. Yang pasti Gus
Usup rajin ke sawah, baik yang berada di belakang pondok maupun di sebelah
utara kampung. Segala yang ditanam Gus Usup tumbuh dengan baik. Bila musim
kemarau, tanaman terong, lombok, serta tomat berbuah dengan lebat. Saat malam,
ketika kami berburu jangkrik sambil membawa obor, terong-terong itu sering kami
curi untuk dimakan mentah-mentah, meski banyak juga di antara kami takut kalau
terkena sesuatu setelah makan terong Gus Usup.
“Perutmu bisa mlembung kalau nyolong terong
Gus Usup,” kata Guk Mat menakut-nakuti kami.
Seperti diceritakan oleh Guk Mat, dulu waktu mandi Gus Usup suka
mencari batu akik di dasar sungai. Dan itulah yang paling menjadi perhatian
bagi kami: cincin akik yang melingkar di jari manis Gus Usup. Batu akik sebesar
ibu jari itu bermotif sisik naga, berwarna cokelat dengan ornamen seperti sisik
yang saling menindih. Saat bermain kartu, terutama ketika malam menjelang ada
orang hajatan di kampung, akik sisik naga Gus Usup itu hampir pasti menjadi
pembicaraan. Dengan memakai akik itu konon Gus Usup tidak pernah kalah dalam
bermain kartu. Kalau toh kalah dengan taruhan uang kecil-kecilan, kata orang
itu sengaja mengalah demi menyenangkan lawan mainnya seperti Guk Mat, Guk Pin,
Wak Parmin, Wak Rokemat, Kang Marsud, Kang Maskut, Kang Gangsar, Cak Kamal, Cak
Nan, dan beberapa orang lainnya.
Mungkin karena sering mendengar cerita soal akik Gus Usup, tidak
sedikit yang berusaha mendekat sambil menuding-nuding akik itu, terutama mereka
yang berumur belasan tahun. Gus Usup hanya tersenyum sambil tetap bermain kartu
remi di acara hajatan warga.
“Kalau pegang kamu nggak bisa kencing dan berak,” kata Gus
Usup.
“Masak, Gus!?” Salah satu dari mereka, Dulah namanya,
terjingkat.
“Lo, beneran. Nggak bohong ini,” ujar Gus Usup kalem sambil
tersenyum.
“Demi Allah, Gus?”
“Demi Allah,” Gus Usup manggut-manggut.
Mendengar jawaban Gus Usup tiba-tiba semuanya terdiam. Tergambar
perasaan takut pada wajah mereka. Mereka agak menjauh. Tapi Dulah kembali
nyeletuk, “Musyrik itu, Gus. Masak pegang aja nggak bisa kencing dan berak?”
“Kamu nggak percaya?” tanya Gus Usup sambil meletakkan sebuah
kartu remi ke deretan di depannya.
“Masak?”
“Buktikan saja kalau berani,” Gus Usup tersenyum sambil
mengulurkan lengan kirinya, sementara kartu reminya dipindah ke tangan kanan.
“Kalau tidak terbukti nanti saya beri uang kamu.”
“Saya berani, Gus. Bismillaahir rahmaanir rahiim.”
Dulah pun menyentuhkan ujung telunjuknya ke akik Gus Usup, agak sedikit gemetar
tapi berani.
“Sudah?” tanya Gus Usup.
“Sudah, Gus. Nggak apa-apa kan?”
“Ayo, sambil memegang sekarang kamu kencing dan berak di
sini!”
“Wah ya nggak mau, Gus….”
“Nggak bisa kan? Tadi saya bilang kalau pegang. Kalau ke WC
berarti sudah tidak pegang.”
Semua yang hadir tertawa. Dulah cengar-cengir. Beberapa saat
setelah itu giliran Gus Usup mengambil sebuah kartu remi yang tertumpuk di
depannya, ditepuk-tepuk dulu punggung kartu itu dengan jemari yang dihiasi
sisik naga, digeser, diletakkan di depannya, kemudian diintip pelan-pelan dari
sudutnya.
“Ngandang!” kata Gus Usup sambil
membuka semua kartu di tangannya dengan cekatan, diletakkan di lantai. Benar,
kali ini dia memenangkan permainan. Diraupnya uang recehan yang menumpuk di
tengah karena sudah lima kali putaran belum ada yang memenangkan. Yang lain
cuma manggut-manggut kecut. Dengan sigap Gus Usup kembali mengocok tumpukan
kartu dan membagikan kepada para pemain.
“Sisik naga dilawan,” kata Cak Nan sambil meraih gelas kopi.
“Giliranku menang.” Wak Marsud menepuk-nepuk sisik naga di jari
Gus Usup. Gus Usup hanya tersenyum.
“Habis recehan saya, Gus,” kata Guk Mat.
“Masih sore kok sudah habis,” Gus Usup menimpali. “Tukarkan!”
Semua yang bermain mengerti apa yang dimaksud Guk Mat. Mereka
berharap Gus Usup membagikan kembali uang yang telah dimenangkan. Dan memang
demikianlah. Mereka yang bermain dengan Gus Usup boleh dibilang tak pernah
kalah atau merugi. Mungkin juga tak pernah benar-benar menang. Di akhir
permainan, atau ketika lawannya sudah kehabisan uang, Gus Usup akan memberikan
kembali uang itu. Mereka lama-lama merasa sungkan. Ketika Gus Usup kalah dan
kehabisan uang, mereka pun memberikan kembali uang modal kepada Gus Usup. Akik
sisik naga di jari manis Gus Usup akhirnya menjadi harapan mereka, karena kalau
Gus Usup menang pasti uangnya akan dibagikan kembali.
Dulu, ketika kami belajar mengaji dan berlatih bela diri di
pondok, akik sisik naga Gus Usup juga menjadi perhatian. Kami berlatih tenaga
dalam. Untuk mengujinya, salah seorang di antara kami harus nyetrum, sejenis
trans tapi masih dalam kesadaran utuh sebagai penyerang. Gus Usup dengan
enaknya berkata kepada kami sambil meletakkan akik sisik naganya di lantai.
Kami tahu, akik itu sudah diisi oleh Gus Usup dengan bacaan tertentu.
“Silakan nyetrum, datangkan semua kekuatan
dan ambillah ini!”
Benar, kami semua terpental. Tak seorang pun yang berhasil
mengambil akik itu meski seluruh tenaga dalam sudah kami datangkan saat nyetrum.
Isian akik itu benar-benar berat. Gus Usup tak pernah membuka rahasianya. Entah
ayat atau asmaul husna apa yang
dibacakan. Kami makin hormat dengan Gus Usup.
Gus Usup sepertinya juga tahu walau tidak melihat. Ini terbukti
saat kami salat berjamaah waktu belajar mengaji di pondok dahulu. Seperti
biasa, kami yang waktu itu masih anak-anak suka bergurau, saling menggoda,
tertawa cekikikan dan saling mendorong
saat salat. Kami memang berada di saf atau baris paling belakang. Nah, begitu
salam pertanda salat usai, tiba-tiba Gus Usup dari saf terdepan bangkit
menghampiri kami. Mereka yang bergurau saat salat digebuki dengan sajadah. Gus
Usup ternyata tahu persis siapa yang bergurau dan siapa yang tidak. Sejak itu
kami tidak berani lagi bergurau saat salat, terutama kalau ada Gus Usup.
Kadang-kadang di antara kami ada juga yang mbeling, berharap Gus Usup
tidak ada sehingga bisa sedikit gurauan, saling mencubit dan dorong-dorongan ke
samping waktu salat berjamaah. Bagi kami saat itu, salat berjamaah adalah saat
yang tepat untuk usil dan menjahili teman. Karena itulah salah seorang teman
yang mbeling,
Muhdlor namanya, pernah diselentik kupingnya oleh Gus Usup dari belakang. Saat
itu Muhdlor memasukkan pemukul kentongan ke sarung teman yang sedang sujud di
depannya. Muhdlor tidak tahu kalau Gus Usup baru datang di belakangnya. Saat
pulang dari mengaji Muhdlor kami kapok-kapokkan sepanjang perjalanan hingga dua
hari dia tak berani ke pondok.
Uang recehan Guk Mat sudah benar-benar habis. Beberapa kali
putaran dia tidak pernah memenangkan permainan kartu remi itu. Gayanya
membanting kartu sudah tampak bahwa dia agak kesal karena belum pernah nyirik.
Sementara dia melihat di depan Gus Usup uang recehan mengumpul sebagai bukti
kemenangan. Tiba-tiba Gus Usup pamitan ke belakang. Dia minta permainan
dilanjutkan saja. Hari memang semakin beranjak malam. Semua pemain juga sudah
pernah pamit ke belakang untuk kencing. Dengan sedikit terburu-buru Gus Usup
masuk kembali dan melemparkan jaketnya ke Guk Mat.
“Titip sebentar, biar tidak basah!” kata Gus Usup.
Jaket tentara warna hijau yang sudah memudar itu berada di
pangkuan Guk Mat, baunya apak kayak karung karena mungkin sudah lama tak dicuci.
Permainan berlangsung terus meski harus melangkahi giliran Gus Usup. Sampai
satu putaran usai Gus Usup belum juga kembali. Entah mengapa kali ini lama.
Dari tadi memang Gus Usup tampak kurang nyaman sambil memijit-mijit perutnya.
“Mumpung tak ada Gus Usup. Menang!” kata Guk Mat dengan yakin.
“Aku yang harus menang,” Cak Kamal menimpali.
“Jangan mulai dulu. Kita tunggu Gus Usup datang,” usul Cak Nan.
“Kan kita disuruh terus tadi?” Kang Marsud ingin berlanjut.
“Gak enak ah!” sergah Cak Nan.
“Lanjuuut…!” Guk Mat tak mau membuang-buang waktu. Kartu remi itu
dikocok dengan cepat. Diletakkan di tengah, barangkali ada yang mau mengocok
lagi karena tidak puas. Tidak ada. Guk Mat segera membagikan kartu itu satu per
satu. Permainan pun berlanjut. Ketika semua asyik mencermati kartu, Gus Usup
muncul dan pamitan pulang dengan terburu-buru. Tanpa menunggu tanggapan dia
langsung pergi dengan mengucapkan satu kalimat pendek, “Perutku nggak enak.”
Uang recehannya juga ditinggal.
Kepulangan Gus Usup membuat para pemain bersemangat untuk
memenangkan. Cuaca malam makin dingin. Guk Mat baru tersadar bahwa jaket Gus
Usup masih di pangkuannya. Tanpa berpikir panjang dia memakainya untuk
menghangatkan badan. Kepulangan Gus Usup membuat peluang mereka untuk menang
makin besar karena musuhnya berkurang satu orang. Kali ini benar-benar tampak
serius di wajah mereka. Mata mereka melihat ke lantai ketika ada kartu yang
dibanting. Setiap ada kesempatan mengambil kartu selalu dibarengi harapan agar
bisa ngandang alias
menang. Cara mereka membuka kartu juga sangat hati-hati, ditarik ke depannya
dan diintip pelan-pelan dari pojok. Membuka kartu adalah membuka nasibnya
sendiri. Tumpukan kartu di depan mereka juga makin menipis, seperti gundukan
pasir yang makin lama makin tipis karena disapu angin.
“Nutup!” kata Guk Mat tiba-tiba, sembari membuka kartunya ke
lantai. Uang recehan yang menumpuk di tengah itu disiriknya.
Dia pun bergegas meraup kartu untuk dikocok ulang. Darah baru tampak merambat
di wajahnya.
Tanpa kehadiran Gus Usup permainan bukan makin mengendor, tapi
makin bersemangat. Hari makin malam dan masuk ke dini hari. Mereka tidak lagi
bertaruh dengan recehan, uang kertas yang tadi hanya ngendon di saku kini
keluar dengan warna-warninya. Permainan kali ini bukan sekadar cari hiburan
atau menghabiskan waktu, tapi benar-benar mempertaruhkan nasib untuk meraih
kemenangan. Putaran demi putaran berlangsung. Meski tidak sama kadarnya,
rata-rata dari mereka sudah pernah memenangkan dari putaran-putaran sebelumnya.
Lihatlah, uang-uang kertas tampak di depan mereka. Di depan Guk Mat tampak
lebih banyak karena dia lebih sering nyirik. Recehan tidak lagi
bermakna, bahkan disisihkan.
Tiap rentetan peristiwa pasti mencapai puncaknya. Titik kulminasi
terjadi bukan tiba-tiba, tapi mengalir dengan pasti, seperti suhu pada tungku
pembakaran yang mendidihkan air. Begitu juga permainan kartu kali ini. Mereka
yang kehabisan modal telah tersingkir. Tidak ada lagi pembagian recehan seperti
kalau bersama Gus Usup. Kopi-kopi di tempatnya sudah tinggal ampas dan memadat.
Ayam berkokok sudah terdengar. Mungkin sebentar lagi beduk subuh ditabuh. Di
arena permainan itu menyisakan tiga orang: Guk Mat, Cak Kamal, dan Kang Marsud.
Mereka yang tersisih kini sebagai penonton saja. Sudah lima putaran belum ada
yang memenangkan. Sementara tiap ganti putaran uang taruhan selalu ditambahkan.
“Sudah, ini yang terakhir!” kata Kang Marsud ketika memulai lagi
permainan.
“Oke, yang terakhir. Ini semua!” Cak Kamal mendorong semua uangnya
ke tengah. Tanpa sisa.
Mau tak mau semua harus menambah taruhan sebesar yang disodorkan
Cak Kamal. Uang Kang Marsud ternyata tak cukup. Terpaksa harus ditambah dengan
recehan yang tadi ditinggalkan Gus Usup di dekatnya.
“Pinjam, Gus,” kata Kang Marsud sambil menghitung recehan.
Inilah pertaruhan nasib di titik-titik akhir. Sudah tak ada lagi
taruhan yang ditambahkan. Dompet-dompet sudah terkuras. Tampak mereka makin
berkonsentrasi. Kartu yang dibawa juga makin rapat dirahasiakan agar tidak
diintip oleh lawan. Cara mereka membanting kartu juga makin keras. Setiap kartu
yang dibanting selalu diikuti oleh pandangan mereka. Selalu waswas,
jangan-jangan kartu yang dicari sudah terbanting di arena. Mereka yang menonton
juga berharap cemas. Ingin tahu siapa yang berhasil meraup uang yang menumpuk
di tengah arena itu.
Seperti juga memancing. Ada debaran dan harapan agar ikan segera
menggondolnya. Ikan itu kali ini tidak lain adalah kartu remi. Mata mereka
makin membuka. Jantung mereka makin mendebar. Alir darah mereka juga makin
menderas. Beberapa putaran kartu-kartu yang mereka buru juga belum ketemu.
Sepertinya mereka saling mengetahui kartu-kartu yang diburu sehingga
dicengkeram makin rapat. Waktu makin merambat dengan pasti. Kokok ayam makin
kerap terdengar.
“Nah, ngandang!” kata Guk Mat dengan
cepat. Semua kartu yang dipegangnya dibanting ke lantai dengan terbuka. Semua
mata spontan ikut menatap. Benar! Guk Mat memenangkan permainan. Wajahnya
tampak berbinar-binar. Darah segar sepertinya langsung menderas ke tubuhnya. Gunungan
uang di tengah arena langsung diraupnya mendekat. Sementara Kang Marsud dan Cak
Kamal melemas karena pertaruhan nasib semalam suntuk harus berakhir dengan
pahit. Ketidakhadiran Gus Usup telah membuat dompetnya terkuras. Mereka berdua
percaya, sebentar lagi istrinya ngomel-ngomel karena tak kebagian uang belanja.
Permainan pagi itu pun bubar.
Sesampai di rumah Guk Mat langsung masuk kamar. Uang yang
tadi digembol dalam perut jaket segera dikeluarkan. Lembar demi lembar
menggumpal dengan warna-warna campuran. Sekian banyak rupiah dari banyak orang
telah mengumpul di tangan Guk Mat. Dia ingin menghitung cepat-cepat dan
menyembunyikan agar tidak ketahuan istrinya.
Guk Mat teringat, di tengah permainan tadi dia juga sempat
menyembunyikan uang kemenangan di saku jaket Gus Usup yang dipakainya. Uang itu
segera dikeluarkan. Ah, jumlahnya makin banyak pula. Kantong saku jaket sebelah
kiri telah dirogohnya. Kini dia berganti merogoh saku jaket sebelah kanan.
Terasa ada benda aneh di tangannya. Segera dikeluarkan. Guk Mat terjingkat.
Sisik naga! Akik Gus Usup itu ternyata ikut tertinggal di saku jaketnya. Entah
ini disengaja atau tidak oleh Gus Usup. Mata Guk Mat tak berkedip melihatnya.
Ada getaran di jemarinya.
Tangan Guk Mat belum juga berubah. Akik sisik naga milik Gus
Usup itu terus diperhatikan di kedua ujung jarinya. Dia mulai berpikir, apakah
kemenangan terbesar yang diraupnya kali ini terkait dengan akik sisik naga di
sakunya? Dia sadar bahwa benda itu milik Gus Usup, tapi lama-lama timbul
keinginan pada diri Guk Mat untuk memiliki sisik naga itu. Guk Mat terpaku di
atas dipan kamarnya. Uangnya masih menggelasah di tikar. Guk Mat
menimbang-nimbang, cara apakah yang paling ampuh agar sisik naga itu terus
berada di genggamannya?
Jombang-Surabaya, 2016
Kritik
sastra cerpen
Berdasarkan cerpen yang berjudul Sisik Naga di Jari Manis
Gus Usup tokoh utama dalam cerpen tersebut yakni Gus usup.
Gus usup seseorang yang sederhana dalam hidupnya, selain sederhana gus usup
juga sosok yang baik hati dan santai. Dengan begitu, terbukti bahwa saat sedang
bermain kartu remi dengan teman-temannya ia berbaik hati untuk memberikan
uangnya kepada teman yang saat bermain mengalami kekalahan. selain itu, gus
usup juga orang yang senang bercanda hal itu terbukti bahwa gus usup mengatakan
siapapun yang memegang akik sisik naga maka orang yang memegang tersebut tidak
bisa buang air kecil & berak.
Secara garis besar, cerpen “Sisik Naga di Jari
Manis Gus Usup” karya M. Shoim Anwar ini memiliki berbagai makna simbolik.
Simbol pertama dapat dilihat dari sosok Gus Usup sendiri. Ia memiliki sikap
yang sopan dan ramah pada semua kalangan. Ia juga dapat melihat perilaku
seseorang yang entah dari mana ilmu itu didapatkan. Gus Usup memang lulusan
pondokan sehingga dapat dikatakan pintar dalam mengaji dan beribadah. Oleh
sebab itu juga masyarakat sangat menghormatinya. Sosok Gus Usup di sini
bermakna sebagai pemimpin yang dihormati. Namun sebenarnya, Gus Usup sendiri
tidak meminta orang-orang untuk menghormatinya. Ia bahkan sangat luwes dan
gampang berbaur dengan seluruh golongan. Sosok seperti inilah yang patut untuk
benar-benar dihormati yang tak kenal pamrih. Cerpen tersebut juga menceritakan
kebiasaan masyarakat ketika bertemu dengan orang yang mereka hormati, yaitu menyapa
dengan mengucapkan salam disertai dengan menundukkan kepala. Mereka berfikir
bahwaketika ia menghormati orang lain sebaliknya pula ia akan dihormati dan
disegani orang-orang disekitarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar